Kengerian itu berawal
pada sebuah siang nan terik. Ketika berlibur di Yogyakarta, alumnus
Universitas Diponegoro itu menyempatkan diri ke Malioboro. Di pusat
keramaian itu tiba-tiba mata kaki terasa amat nyeri, seperti dipukul
palu. Tak kuasa menahan nyeri, ia pun menjerit sehingga puluhan
pasang mata tertuju padanya.
Semula Rachma Dwiyanti mengira
terkilir akibat kelelahan. Itu diperkuat pernyataan ahli refleksi
yang ditandangi beberapa saat setelah peristiwa terjadi. Setelah
dipijit satu jam, rasa nyeri lenyap. Namun, seminggu berselang,
ketika Rachma kembali ke Banjarmasin, rasa nyeri kembali hinggap.
Kali ini, rasa nyeri tak mempan diurut. Ia tak bisa menggerakkan
seluruh tubuhnya lantaran nyeri meluas. "Jika kambuh, jalan menjadi
susah," kata Rachma. Wanita kelahiran 21 Januari 1974 itu berbaring
di tempat tidur lantaran tak berdaya melakukan aktivitas apa pun.
Selain nyeri di seluruh sendi, di
tangan kerap muncul benjolan. Jika sudah begitu, ia demam dan tangan
tak mampu digerakkan. Menjelang malam penghujung Mei 2005, nyeri
hebat ia rasakan, sehingga berjalan pun terseok-seok. Suaminya,
Muhammad Frisyal Pattisahusiwa yang baru pulang dari bekerja
terkejut. Frisyal baru menyadari penyakit istrinya bukan sekedar
pegal linu yang mudah disembuhkan obat warung. Ia langsung melarikan
Rachma ke rumah sakit yang berjarak 40 km dari rumahnya.
4 dari 11
Diagnosis dokter menunjukkan penyakit
yang diderita Rachma bukan sembarang rematik. Lantas ia dirujuk ke
ahli rematologi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Di
sana ia menjalani serangkaian tes imunologi dan serologi. Hasilnya,
ANA (antinuclear AB) pada darah ibu 2 anak itu positif
kuat. Nilai C3 hanya 72 mg/dl jauh di bawah kisaran normal, 90-180
mg/dl. Artinya ia mengidap Sistemic Lupus Erythema (SLE) yang
lebih dikenal dengan sebutan lupus. ANA merupakan parameter lupus.
Jika positif berarti ada aktivitas
antibodi penyebab lupus. Sedangkan C3 dan C4, bagian kelompok
protein globulin darah penghambat terjadinya peradangan dan infeksi.
Jika nilainya di bawah kisaran, berarti mudah terjadi reaksi radang
penyebab linu. Setelah 6 bulan bergelut dengan nyeri sendi, Rachma
sadar penyakitnya sama dengan penyebab kematian sang adik.
Sebelumnya ia sempat curiga, tetapi dari berbagai informasi yang
ditelusuri sangat jarang saudara sekandung mengidap lupus. Namun, ia
merasa beruntung penyakit ini terdeteksi lebih awal dibandingkan
adiknya.
Sekitar 12 tahun dokter memvonis Dina
-begitu adiknya dipanggil- hanya nyeri rematik. Saat Dina merasa
kesakitan ketika disentuh, anggota keluarga lain mengira ia
bercanda. Lima bulan menjelang ajal barulah ketahuan ia mengidap
penyakit kelebihan imun.
Kelebihan imun akibat tubuh memberi reaksi
berlebih terhadap rangsangan benda asing. Kemudian tubuh memproduksi
terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditunjukan
untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Sebab antibodi yang diproduksi
berupa antinuclear AB (ANA) dan Anti double stranded
DNA (Anti ds DNA) yang justru merusak tubuh.
"Gejalanya biasa-biasa saja, sehingga banyak
dokter yang tidak mengetahui itu adalah gejala lupus. Banyak
penderita lupus yang meninggal karena tidak terdeteksi secara
benar", ujar dr. Toga Iwanoff Kasjmir SpPD-KR, ahli rematologi RSCM.
Gejala penyakit ini hanya berupa demam, nyeri sendi, lemah atau
lesu, dan rendahnya trombosit.
Agar tidak terjadi kesalahan diagnosis,
ahli-ahli medis menggunakan daftar 11 kriteria ARA (American
Rheumatism Association) untuk mendiagnosis lupus. Di antaranya
ruam diskoid atau bercak putih di wajah, ruam malar kupu-kupu,
radang selaput paru-paru atau jantung, dan kelainan ginjal-- protein
dalam air kencing melebihi 500 mg/24 jam.
Indikasi lain, radang sendi non-erosif pada 2
sendi atau lebih, kelainan darah seperti anemia, leukopenia,
trombositopenia, fotosensitivitas (sensitif terhadap sinar
matahari), dan kelainan sistem saraf kejang atau kelainan jiwa.
Sariawan di rongga mulut dan tenggorokan,
kelaian immunologi (anti ds DNA positif, anti antibodi positif atau
sel LE positif), anti-antibodi positif atau sel LE positif), dan
kadar antibodi -antinuklir (ANA) abnormal) juga menjadi pertanda
serangan lupus. Jika terdapat 4 gejala dari 11 parameter di atas,
maka seseorang didiagnosis mengidap lupus.
"Sayangnya, gejala itu muncul dalam waktu
panjang", kata dokter alumnus Universitas Indonesia itu. dari satu
gejala ke gejala lain kerap berselang satu tahun.
Wajah Rembulan
Untuk mengatasi lupus, Rachma menenggak
obat-obat mengandung steroid dan metrotreksit untuk kanker. Obat itu
dikonsumsi agar serangan lupus tidak meluas ke organ tubuh lain.
Namun, mengasup bahan kimia itu justru menambah penderitaan.
"Tiga gigi saya patah dalam satu tahun", kata
Rachma. Steroid memang bahan kimia pengeropos kalsium tulang dan
gigi. selain itu, wajahnya membulat -dikenal dengan istilah
moonface (wajah rembulan)-, kulit kering, rambut rontok, tulang
punggung linu setiap saat, asam urat meningkat, dan lambung perih.
Walau begitu, Rachma tetap mengkonsumsinya. Sebab, obat-obatan lupus
memang hanya steroid.
Awal Maret 2006, Rachma membaca artikel Trubus
tentang tripang (sea cucumber) mengendalikan lupus sendi. Lantaran
ingin mempercepat kesembuhan, Rachma langsung mencobanya. Setelah
seminggu mengkonsumsi, penderitaannya berkurang. Linu hilang, rambut
menjadi tebal, kulit kembali kenyal dan halus. Sebelumnya, efek
steroid membuat kulit Rachma kusam dan kering.
Kabar gembier itu juga dibuktikan melalui tes
laboratorium setelah satu bulan konsumsi gamat (tripang). Hasilnya,
niai ANA negatif, C3 sebagai aktivitas protein antibodi berkisar
normal dengan angka 98 mg/dl, C4 meningkat ke angka 20 mg/dl, dan
Laju Endap Darah 19 mm/jam. Ginjalnya diperiksa untuk mengetahui
efek samping konsumsi gamat. Nilai uretum 15 mg/dl, tetap pada
ambang batas 13-43 mg/dl dan kreatinin 0,6 mg/dl, pada kisaran
normal 0,5-0,9 mg/dl.
"Dokter bilang, lupus saya lebih terkendali,"
kata Rachma. Kesehatan itu dapat bertahan asal ia menghindari
matahari langsung pada pukul 10.00-15.00, istirahat cukup dan
mengasup makanan bergizi.
..........
Menurut Howard Benedikt, MS, DC ahli nutrisi
dari Long Island University, Amerika Serikat, menyebutkan
vitamin E, omega-3 EPA, dan kelompok antioksidan gamat berpengaruh
dalam pembuangan sitokinin. Hasil temuan Dr. Mittchell Kurk direktur
medis Biomedical Revitalization Center of Laurence, New York,
menunjukkan gamat meningkatkan kesehatan fisik bagi 70% pengidap
radang atau linu sendi, tanpa efek samping. Sebab gamat memiliki
komponen kondroprotektif yang memperbaiki tulang muda dengan
merangsang metabolisme anaboliskondrosit serta menghambat reaksi
katabolisme saat peradangan.*
BONUS VCD METODE TERAPI
BIO INFRA MERAH (BIOFIR)
Setiap belanja 2 botol Gold-G
(Ekstrak Teripang),
Anda akan mendapatkan bonus 1
keping VCD metode/teknik
terapi menggunakan Sinar Bio Infra
Merah Jarak Jauh
(Bio Far Infra Red Rays)