
Sertifikat HALAL
Malaysia:
JAKIM (22.00)/492/2/1 010-10/2004
BPOM RI:
ML 234201001307
|
|
Trubus
Edisi:
Senin, 04
September 2006 08:22:22
|
Olah Spirulina Saat Liliput
Berubah Wujud
|
|
Hamparan jaring peneduh yang melingkupi 2 hektar
lahan di Distrik Dong Ying, Provinsi Shandong, RRC
Utara, terlihat megah. Di bawahnya tampak kolam-kolam
berukuran besar berisi air kehijauan. Dari sanalah
serbuk-serbuk spirulina yang tengah dikemas karyawan
sebuah pabrik di kawasan Cikarang, Bekasi, berasal.
Fenomena itu tak ubahnya di Kepong, Malaysia yang
mengemas spirulina kiriman dari Hawaii, Amerika
Serikat.
Spirulina yang dipasarkan dalam berbagai kemasan di
tanahair memang semuanya impor, antara lain dari Cina,
Jepang, India, dan Amerika Serikat. Di Indonesia
bukannya tidak ada tempat cocok untuk pengembangbiakan
makhluk berukuran mikroskopik itu. Alasan belum ada
investor yang memandang spirulina sebagai makanan
kesehatan itulah yang paling tepat dikedepankan.
Memang tidak banyak tempat bisa dijadikan ladang
pengkulturan spirulina. Jasad liliput itu butuh
persyaratan spesifik untuk hidupnya. Selain perairan
basa, pH di atas 8,5, tempat itu harus steril dari
pencemaran udara, seperti debu dan zat-zat kimia
berbahaya. Bahkan menurut Prof Riset I Nyoman Kabinawa,
ahli teknologi kultur mikroalga Indonesia, lingkungan
pun harus tenang.
Itulah sebabnya Ultra Trend Biotech produsen
Spiruplus memilih Dong Ying di Provinsi Shandong, RRC
Utara, untuk lokasi budidaya. Kami butuh waktu 1 bulan
untuk mengapalkan serbuk spirulina hingga Cikarang,
ungkap Billy Gan, presiden direktur Ultra Trend Biotech
Indonesia.
Pembudidayaan spirulina juga dilakukan oleh Cyanotech
Company di Hawaii, Amerika Serikat, tetapi kondisi
tempatnya berbeda. Produsen spirulina yang
didistribusikan dengan nama Luxor itu menambang
spirulina di lautan bebas. Hampir tak ada perbedaan cara
pengolahannya. Sebab, keduanya sama-sama dibudidayakan
di aliran air tenang. Berikut pembudidayaan spirulina
seperti yang dituturkan Billy Gan dari Ultra Trend
Biotech dan Bob Capelli dari Cyanotech Company langsung
kepada Trubus.
- Kedua perusahaan, Ultra Trend Biotech dan
Cyanotech Company membudidayakan jenis Spirulina
platensis. Bibit spirulina diperoleh secara
kultivasi di laboratorium. Setelah penyeleksian
selesai, terpilihlah bibit spirulina terbaik. Bibit
itu lantas dimasukkan ke dalam galon masing-masing
bervolume 19 liter. Galon itu berisi nutrisi agar
ganggang biru-hijau itu tumbuh lebih cepat. Sebab,
untuk mengisi seluruh kolam paling tidak dibutuhkan
bibit sebanyak 10 galon.
- Bibit itu dimasukkan ke dalam kolam perbanyakan.
Pemindahan bibit dilakukan pada awal Mei. Pada bulan
itu suhu di Dong Ying cukup hangat, 20șC, cocok untuk
memulai budidaya. Kolam terbuat dari semen, berukuran
tinggi 60 cm, lebar 6 m, dan panjang mencapai 100 m.
Kolam ini diisi air tawar sampai ketinggian 30 cm. Air
yang digunakan dipompa dari dalam tanah agar
kebersihannya terjamin. Beda halnya dengan
pembudidayaan spirulina di Cyanotech Company. Sumber
air yang digunakan berasal dari dasar laut yang
kedalamannya mencapai 6.000 meter. Air itu masih murni
dengan kandungan mineral lengkap, kata Bob Capelli.
- Setiap kolam dilengkapi pemutar yang digerakkan
listrik, dengan kecepatan 3-4 m/detik. Pemutar ini
digunakan untuk mengaduk air kolam, sehingga semua
bibit spirulina dapat memperoleh sinar matahari.
Apabila air tidak diputar, sinar matahari hanya
mengenai spirulina di permukaan atas kolam. Setiap
hari ditambahkan mineral ke dalam kolam. Unsur-unsur
seperti nitrogen, potasium, besi, serta unsur penting
lainnya dapat meningkatkan kualitas spirulina.
- Musim tanam atau penyebaran bibit spirulina
dilakukan pada Mei hingga Oktober. Spirulina sudah
bisa dipanen 3-5 hari kemudian. Pemanenan dilakukan
setiap hari. Bahkan, saat puncak musim panas, panen
spirulina berlangsung setiap jam agar terhindari dari
ledakan populasi. Cara panen, air kolam di pompa dan
dimasukkan ke penyaring. Lantas spirulina yang
tersaring dicuci menggunakan air bersih agar semua
kotoran hilang. Setelah bersih, spirulina itu
dikeringkan lantaran masih mengandung 80% air.
Sedangkan air yang keluar dari saringan dimasukkan
kembali ke dalam kolam.
- Spirulina yang telah dicuci dimasukkan ke spray
drier. Panas yang disemprotkan mesin mengubah
bentuk spirulina, dari cairan menjadi bubuk kering.
Teknologi lain diaplikasikan Cyanotech. Pengalaman 23
tahun memproduksi spirulina Cyanotech menemukan proses
teknologi ocean chill drying. Proses
pengeringan beku itu menjamin tidak terjadinya
oksidasi terhadap karoten dan asam lemak spirulina.
Produk bisa bertahan lebih dari 5 tahun.
- Bubuk spirulina dikemas dalam vacuum pack
lalu disimpan ke dalam tong terbuat dari kertas. Dari
Shandong, Cina, Ultra Trend Biotech mengirimkan 200
tong masing-masing berisi 50 kg bubuk spirulina
melalui laut ke Indonesia. Setelah 30 hari perjalanan,
sampailah di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Sedangkan
Cyanotech mengirimkan bubuk spirulinanya ke Kepong,
Kualalumpur, Malaysia.
Setibanya di pabrik
pengemasan, bubuk spirulina langsung masuk ruang
penyimpanan berpendingin. Saat akan diolah serbuk
berwarna hijau itu baru dikeluarkan. Ada yang
memasukkan serbuk itu ke dalam kapsul, ada juga yang
dibentuk menjadi tablet. Dalam satu hari,
masing-masing perusahaan mampu mencetak 250.000 kapsul
dan tablet spirulina. Setelah dikemas dalam botol dan
kardus, produk siap dipasarkan ke konsumen di seluruh
Indonesia. (Lani Marliani/Peliput: Vina
Fitriani)
ARTIKEL MAJALAH TRUBUS TENTANG
KHASIAT TERIPANG / GAMAT / SEA CUCUMBER
|
|
|
|